Merah-Putih, Kerbau, dan Banteng
Saat menentukan bendera nasional pada 1939, banyak yang ingin mempertahankan lambang banteng di tengah merah-putih.
Pengadilan Internasional Peristiwa 1965
Sekelompok aktivis, peneliti dan pegiat HAM berikhtiar menyelenggarakan Pengadilan Rakyat Internasional di Den Haag, Belanda. Dua hakim internasional siap mengadili.
AU di Tengah AD
Dua perwira AU melerai pertempuran dua pasukan AD di "rumahnya" Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma.
Hadiah Atas Rasa Kemanusiaan

Ironi atas temuannya membuat Alfred Nobel mencurahkan kekayaannya untuk kemanusiaan.

Kembara Pusaka Diponegoro
Pusakanya dirampas Belanda, Diponegoro merasa akan mendapat marabahaya.
Peran Tionghoa dalam Kemiliteran
Tionghoa identik dengan perekonomian. Namun, ternyata mereka juga berkiprah dalam kemiliteran.
TERBARU
Pegawai negeri harus melayani dan mengabdi, bukan jadi priyayi.
Dia membuat Indonesia menjadi pelopor industri penerbangan di Asia.
Singkong penyelamat kala paceklik atau gagal panen. Namun peningkatan konsumsi singkong dipandang tanda kemiskinan.
Gedung dan ruang-ruang di DPR/MPR RI diberi nama Sanskerta pada era Orde Baru. Reformasi menyederhanakannya.
Kematian putrinya membuatnya banting stir menjadi pejuang. Reputasinya, yang ikut mengantar kemerdekaan Belanda, membuat namanya melegenda.
KRONIKA
Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November, Historia memilih 50 Perempuan yang memainkan peran di berbagai bidang dalam sejarah di Indonesia.
Balapan ini bermula dari tujuan pemujaan terhadap dewa-dewi. Namun kemudian justru dilarang.                           
Indonesia dibangun di atas reruntuhan kolonialisme. Orde Baru meluluhlantakannya.                                      
Rekonsiliasi sebuah keniscayaan untuk Indonesia tapi tak mudah mewujudkannya                                           
Mompe mengubah kebiasan berbusana perempuan Jawa dan Melayu. Dianggap lebih praktis dan ekonomis dari kain dan sarung. 
Dia anomali dalam Dinasti Agnelli. Melanjutkan bisnis keluarga ternyata bukan minatnya. Dia malah memilih menekuni filsafat dan agama.
Dia menolak negara kekuasaan (machstaat) yang lahirkan pemimpin tiran. Bersahabat dengan tokoh agama lain.             
HISTORIA CHANNEL
Logo Button 125x62
Majalah Historia Headquarters
Jl. Wahid Hasyim No. 194 | Jakarta Pusat | Indonesia
Historia © 2012 | Privacy Policy
del