Sastrawan HB Jassin menerjemahkan Alquran dari sudut sastra.

Kitab Para Penyair

Tuhan tidak suka para penyair, kecuali yang bertakwa.

OLEH: BUDI SETIYONO
Dibaca: 5056 | Dimuat: 26 Agustus 2011

LARUT MALAM. Sesudah salat Isya, dia mulai mengetik. Lampu 40 waat dengan kap khusus menyorot  Alquran yang terbuka. Lirih-lirih terdengar surah an-Nisaa dari qariah favoritnya, Saidah Ahmad. Dia merenung. Dipasangnya kaset lain dan terdengarlah suaranya melantunkan surah Yassin. Disusul terjemahannya dalam puisi bahasa Inggris, petikan dari Yusuf Ali. Juga suaranya sendiri, seperti deklamasi. Membangun suasana seperti itu membantu pekerjaannya menerjemahkan Alquran. Setelah menelan Bodrex, dia mengetik lagi.

H.B. Jassin sedang mengerjakan terjemahan Alquran. “Saya melihatnya dari sudut sastra. Dan ini bukan tafsir melainkan terjemahan - dalam bentuk puisi,” ujar Jassin dalam wawancara dengan Tempo, 29 Maret 1975.

Sosoknya tak pernah lepas dari kontroversi. Belum juga rampung masalah cerita pendek “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin, dimuat di majalah Sastra edisi Agustus 1968 dan dianggap menghina Tuhan, yang membuatnya duduk di kursi pesakitan dan mendapat vonis setahun penjara dengan masa percobaan dua tahun –salinan putusannya tak pernah dia terima– H.B. Jassin mempersiapkan sebuah karya yang juga memantik kegalauan sejumlah ulama.

Sehari setelah pemakaman istrinya, Arsiti, pada 12 Maret 1962, Jassin menggelar tahlilan di rumahnya selama seminggu. Pada malam kedelapan, ketika tak ada lagi orang tahlilan, Jassin membaca Alquran sendiri. Hatinya terketuk. Keindahan bacaan dan bahasa Alquran mengilhaminya untuk menerjemahkan Alquran dengan bahasa puisi. Dalam pengantar cetakan kedua, Jassin juga mengaitkannya dengan latar belakang bacaan Alquran dari sang nenek dan serangan Lekra kepada dirinya di masa Orde Lama.

“Orang sekarang berlomba-lomba menerbitkan tafsiran yang tebal-tebal, tapi saya kira yang tak kurang pentingnya ialah suatu terjemahan saja yang bisa dipertanggungjawabkan dari sudut keindahan bahasa dan sudut ilmiah…,” tulis Jassin dalam suratnya kepada B. Soelarto, 17 Desember 1964, sebagaimana termuat dalam Surat-surat 1943-1983.

Dalam mengerjakan karyanya, Jassin mengumumkan bahwa dia bermaksud membuat terjemahan baru yang bukan hanya mengungkap makna dari teks Arabnya, namun juga mengabadikan keindahan puitisnya. “Untuk pertama kalinya, dalam konteks Indonesia, seorang penerjemah secara terbuka memberikan preseden bagi tercapainya padanan fungsional yang signifikan pada teks sasaran,” tulis Peter Riddell.

Sebelum mengerjakan karyanya, Jassin mempelajari Alquran dari berbagai terjemahan. Ada karya Mohammed Marmaduke Pickthall, The Meaning of the Glorious Koran, yang terjemahannya, tanpa teks Alquran, disahkan Senat Dewan Universitas Al-Azhar. Ada pula karya John Medows Rodwell (The Koran), Arthur J. Arberry yang non-Muslim (The Koran Interpreted), Yusuf Ali (The Holy Koran), hingga terjemahan Departemen Agama (Al-Qur’an dan Terjemahannya). Dia juga membuka kamus, A Dictionary and Glossary of the Koran, susunan John Penrice, yang memuat semua kata dalam Alquran.

Sepuluh tahun kemudian, setelah mempelajari berbagai terjemahan dan mencoba mengetahui artinya kata demi kata, Jassin merasa lega. “… alhamdulillah sekarang saya sudah sanggup menerjemahkan tidak hanya dengan akal, tapi terutama dengan hati dan perasaan,” tulis Jassin dalam suratnya dari Leiden kepada Kasim Mansur tanggal 24 Oktober 1972.

Jassin berada di Negeri Belanda pada 1972 karena mendapat beasiswa dari Kementerian Pengajaran dan Ilmu Pengetahuan Belanda untuk melakukan riset pembaruan sastra Indonesia dan mempelajari pengajaran bahasa dan sastra di berbagai negara Eropa. Istrinya, Lily (Yuliko Willem), ikut dengan ongkos sendiri. Di Belanda pula Jassin mencoba menyelesaikan karyanya.

Kasim Mansur, sastrawan asal Surabaya yang juga sahabat Jassin, adalah orang yang mendorong dan membantu Jassin dalam menyelesaikan karya ini. Setidaknya ini terlihat dalam surat Jassin kepada Kasim Mansur: “Terima kasih Sim, atas terjemahan Abdullah Yusuf Ali yang saya dapat dari Kasim tiga tahun yang lalu dan atas anjuran Kasim untuk menerjemahkan Alquran.”

Jassin tidaklah asing dengan bahasa Arab. Selama tiga tahun dia mempelajari bahasa Arab dari A.S. Alatas, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan penterjemah Al-Majdulin Musthafa Lutfi Al-Manfaluthi –selain pelajaran ilmu-ilmu Islam dari islamolog terkenal Prof Pangeran Arjo Hoesin Djajadiningrat. Jassin juga menerjemahkan buku pelajaran teologi dasar al-Jawahirul Kalamiyah sebagai latihan. “Hanya ia memang tidak secara langsung mempelajari ilmu-ilmu seperti Ma ani-Bayan-Badi yang merupakan gerbang bagi penguasaan ilmu-ilmu alat untuk seorang pentafsir (bukan sekadar penterjemah) Quran,” tulis Tempo, 4 Oktober 1975.

Sudah sepuluh tahun pula Jassin membaca Alquran berurutan dari permulaan hingga habis dan kemudian diulang lagi. Jassin memulai penerjemahan surah Al-Mu’minun karena kebetulan sedang mempelajari surah ini. Sesudah itu, dia akan mengerjakan surah Yassin, yang populer dalam kehidupan orang Indonesia. Kemudian surah Ar-Rahman dan Al-Waqiah karena dia anggap secara estetis paling indah dalam seluruh Alquran karena bunyi dan iramanya. Sesudah itu dia kembali akan menerjemahkan surah-surah sesudah Al-Mu’minun.

“Aduh Sim, makin didalami makin nikmat. Mudah-mudahan saya berhasil mengungkapkan kembali keindahan bentuk dan kandungannya,” tulis Jassin dalam suratnya kepada Kasim Mansur, 26 November 1972.

Sebagian terjemahannya dimuat di Panji Masyarakat dan mendapat komentar dari kawan-kawannya, yang menganggap karya Jassin akan jauh dari aslinya karena mendasarkan pada terjemahan bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Dalam surat kepada Kasin Mansur, 9 Desember 1972, Jassin membantah anggapan itu.

“Mengenai komentar kawan-kawan, saya kira lebih baik saya diam saja. Yang penting saya harus memberikan bukti. Hanya perlu dijelaskan bahwa saya menerjemahkan dari Alquran bahasa Arab sebagai induk dan mempergunakan terjemahan-terjemahan lain sebagai perbandingan dan memakai pula kamus-kamus dan Konkordansi Flugel untuk mencek kembali.”

Pada akhirnya Jassin menyelesaikan karyanya dan diterbitkan Djambatan tahun 1978 dengan judul Al-Quranul Karim Bacaan Mulia. Mushaf dan kaligrafi dikerjakan Haji R. Ganda Mangundihardja. Buya Hamka dan Menteri Agama Mukti Ali memberi kata pengantar.

Muncullah kontroversi. Menurut laporan Tempo, 10 Juli 1982, tak lama sesudah cetakan pertama, beberapa orang serentak menyerangnya di media. Bermacam surat datang ke Menteri Agama atau Majelis Ulama Indonesia, minta terjemahan tersebut dicabut dari peredaran. Terbit pula tiga buku: Koreksi Terjemahan Al Quranul Karim Bacaan Mulia H.B. Jassin oleh Nazwar Syamsu, Padang Panjang, Polemik tentang Al Quranul Karim Bacaan Mulia oleh H. Oemar Bakry, dan Sorotan atas Terjemahan Quran H.B. Jassin oleh KH Siradjuddin Abbas.

Umumnya, mereka beralasan Jassin bukanlah ulama yang mempelajari Alquran secara mendalam sebagaimana layaknya penerjemah Alquran. Kemampuan bahasa Arabnya juga disangsikan. Bahkan mereka keberatan pada penggunaan sejumlah istilah dan ungkapan.

Oemar Bakry, misalnya, menuduh Jassin tak punya cukup bekal pengetahuan agama untuk mengerjakan sebuah tugas mahapenting seperti menerjemahkan Alquran. Dia juga menolak pemilihan judul buku Jassin, yang dia anggap “menolahkan martabat Alquran menjadi sama dengan buku-buku lain ciptaan manusia. Buku… bacaan bahagia, bacaan sempurna, bacaan utama, dan lain-lain sebagainya,” sebagaimana dikutip Peter Riddell.

Sebenarnya Jassin bukanlah orang pertama yang melakukannya. Dalam bahasa daerah, R. Hidayat Suryalaga secara bertahap menerbitkan penjelasan Alquran dalam bahasa Sunda dalam beberapa jilid, dengan judul Saritilawah Basa Sunda, yang dimulainya pada 1944. Menurut Peter Riddell, pendekatannya mengingatkan pada karya Jassin, Al-Quran: Bacaan Mulia. Suryalaga menuliskan terjemahannya berdasarkan terjemahan-terjemahan lain dalam bahasa Indonesia dan Jawa, dan menuangkannya ke dalam dangding, syair tradisional Sunda. Namun karyanya tak memicu penolakan seperti dialami Bacaan Mulia Jassin.

“Ini mungkin disebabkan oleh dua hal; pertama, teks bahasa sasaran itu ditulis dalam salah satu bahasa daerah minoritas. Kedua, dan mungkin yang paling penting, Jassin telah meninggalkan jejak yang dapat dimanfaatkan oleh penerjemah-penerjemah lainnya,” tulis Peter Riddell dalam “Menerjemahkan Al-qur’an ke dalam Bahasa-bahasa di Indonesia”, termuat dalam Sadur.

Jassin sendiri sadar bahwa karyanya akan menimbulkan polemik. Sebelum naskah itu terbit, Jassin sempat mempresentasikannya dalam sebuah acara di Musabaqah Tilawatil Quran Nasional tahun 1975 di Palembang. Jassin membacakan ceramahnya sepanjang 11 halaman, menuturkan pengalaman pribadinya mengapa dia tertarik pada Alquran dan kemudian berusaha menerjemahkannya secara puitis. Salah satunya, ujar Jassin sebagaimana dikutip Tempo 4 Oktober 1975, semua terjemahan yang sudah dikerjakan orang dalam bahasa Indonesia ditulis dalam bahasa prosa. Tak mengherankan karena para penerjemah –umumnya guru agama– mementingkan kandungan kitab suci itu. Padahal sebenarnya bahasa Alquran sangat puitis dan ayat-ayatnya dapat disusun sebagai puisi dalam pengertian sastra.

Pembicaraan juga memasuki masalah teknis penerjemahan. Kritik pun berdatangan. Bagi Jassin, kritik semacam itu bisa dialamatkan ke terjemahan mana pun sebab tak ada satu terjemahan yang disepakati semua orang. Alquran, katanya, demikian besar sehingga tak akan habis diterjemahkan. Toh dia mau menerima sejumlah masukan. Dia juga akan meminta pendapat orang dalam koreksi terakhir naskahnya.

Jassin mendapat dukungan dari Ustadz Mukhtar Luthfi al-Anshari, ketua panitia Majelis Ulama DKI yang mengoreksi terjemahannya. Katanya kepada Tempo, 10 Juli 1982: "Kebanyakan ulama sebenarnya hanya berpegang pada sebagian saja dari kitab-kitab tafsir andalan sebagai perbandingan." Dan di Indonesia, "biasanya yang dipegang terutama tafsir Ibnu Katsir."

Jassin dipanggil menghadap Majelis Ulama Daerah Istimewa Jakarta pada 25 Agustus 1976 untuk menjawab berbagai tuduhan seputar terjemahannya.

Atas reaksi itu, Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bergerak. Setelah Jassin diundang dalam satu sidang para ulama, MUI memutuskan menyerahkan masalah ini kepada MUI DKI Jakarta yang kemudian membentuk sebuah panitia bernama Tim Perbaikan Terjemahan Al-Quranul Karim Bacaan Mulia untuk meneliti karya itu. Panitia diketuai oleh Mukhtar Luthfi al-Anshari. Pekerjaan itu makan waktu tiga tahun, selesai Maret 1982.

Akhirnya karya itu terbit bertepatan dengan hari ulang tahun Jassin ke-65. Penerbitnya Yayasan 23 Januari 1942, yang didirikan tokoh-tokoh dari Gorontalo di Jakarta seperti B.J. Habibie, J.A. Katili, Th. M. Gobel, Ir. Ciputra, Mukhtar Peju, dan H.B. Jassin sendiri. Pada 1984, Yayasan 23 Januari 1942 juga menerbitkan karya Jassin lainnya, Juz Amma Berita Besar.

“Maka, dengan usaha Dr H.B. Jassin menulis terjemahan Alquran, dia telah sampai pada batas yang dia sendiri tidak dapat mundur lagi buat turut memperkuat perkembangan penyebaran Islam di tanah air kita bersama-sama dengan teman-temannya yang lain,” ujar Hamka mengenai terjemahan AlQuranul Karim Bacaan Mulia, seperti dikutip Pamusuk Eneste, H.B. Jassin Paus Sastra Indonesia.

Satu masalah rampung, Jassin kembali membuat kontroversi. Bukan hanya terjemahan Indonesia yang ingin dipuitisasikan, Jassin pun hendak menyusun urutan tulisan Alquran secara puitis. Sejak 1991, dia menulis ulang Alquran dalam bentuk tipografi puisi, diurutkan secara simetris. Jika ujung ayat itu berbunyi akhir ayat "nun", misalnya, bunyi ujung-ujung ayat berikutnya diatur pada yang berbunyi "nun" juga, begitulah kira-kira. Penulisannya dilakukan oleh kaligrafer D. Sirodjuddin A.R. Dia sudah mempersiapkan judulnya, Al Quran Berwajah Puisi.

Yang memotivasi Jassin: "Mengapa Alquran yang begitu indah bahasa dan isi kandungannya tidak ditulis pula secara indah perwajahannya."

Jassin bukanlah sastrawan pertama. Mohammad Diponegoro (Dipo) sudah melakukannya, meski hanya juz 29 dan 30. Dipo menerbitkan buku Pekabaran, Puitisasi Terjemahan Al Qur′an Juz ′Amma, yang diterbitkan Budaya Jaya pada 1977. Bersama karya-karya Djamil Suherman dan Kaswanda Saleh, terjemahan puitis juz 30 Alquran gubahan Dipo dikumpulkan pengarang A. Bastari Asnin dalam Kabar dari Langit, yang meski tak jadi diterbitkan kerap dideklamasikan dan merupakan awal kegiatan puitisasi di belakang hari. Dipo sendiri tak menganggap dirinya pelopor. Dia menyebut penyair Rifai Ali pada 1930-an sebagai perintisnya.

Jasssin baru mengerjakan 10 juz ketika muncul imbauan agar tak melanjutkannya. ”Mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya,” ujar ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran, lembaga yang berwenang mengesahkan penerbitan Alquran, seperti dikutip Tempo, 13 Februari 1993.

MUI mengajukan keberatan. Dalam suratnya antara lain disebutkan, naskah H.B. Jassin tak sesuai dengan mushaf Al Imam, mushaf (tulisan naskah Quran) yang menjadi standar di dunia Islam, termasuk Indonesia. Susunan kalimat ayat yang dikerjakan Jassin juga tak mengindahkan ketentuan qiroatnya, antara lain soal pemenggalan kalimat.

Tentu saja Jassin kecewa. Soalnya, jauh sebelum ada larangan itu, dia sudah menghubungi orang-orang seperti Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran Hafizh Dasuki, Menteri Agama Munawir Sjadzali, dan Ketua MUI Hassan Basri.

Jassin melayangkan surat kepada Hafizh Dasuki dan Hasan Basri. Dia mempertanyakan keberatan kedua lembaga tersebut. Misalnya, tentang apa saja mudarat dan manfaat kreasinya, tentang Alquran yang beredar sekarang seragam dengan mushaf Al Imam yang asli, juga tentang ketentuan-ketentuan mengenai qiraat yang paling asli.

Alquran berwajah puisi urung terbit hingga kini.

Jassin menyadari surat Asy Syu’araa (para penyair) menyebutkan bahwa Tuhan tak suka pada penyair. Tapi, ada sambungannya,”kecuali orang-orang yang takwa,” ujar Jassin dikutip Tempo.

Isi Komentar
Komentar 1
Nama
Email
Page: 
 ( 1 total )
Komentar
Reply
Thu, 8 September 2011

yang penting Alquran dibaca dan dipahami

Nama
Email
ARTIKEL TERDAHULU

Konstitusi Republik Indonesia menjamin eksistensi umat Baha`i. Diperkenalkan ke Indonesia sejak abad 19.

Usia kompleks makam Pangeran Achmad Jayakarta merentang jauh hingga masa VOC.

Perjalanan haji Presiden Soeharto dan keluarganya ditengarai bermuatan politik.

Majalah Historia Headquarters
Jl. Wahid Hasyim No. 194 | Jakarta Pusat | Indonesia
Historia © 2012 | Privacy Policy
del